Webinar Prodi IPT, Konvergensi Tradisi Agama Dan Covid 19

Diposting pada tanggal 15 March 2021
Webinar Prodi IPT, Konvergensi Tradisi Agama Dan Covid 19

UntribKalabahi, “Konvergensi Tradisi Agama Dan Covid-19” menjadi Tema besar bagi Program studi Pendidikan Teologi Universitas Tribuana Kalabahi dalam melangsungkan kegiatan seminar melalui aplikasih zoom pada hari Jumat, 12 maret 2021 Pukul 10.00. hingga selesai.

Kegiatan yang menghadirkan 3 orang narasumber yang ahli pada masing-masing bidangnya tersebut secara resmi kegiatan tersebut dibka oleh Rektor Untirb Kalabahi, Alvonso F. Gorang.S.Sos.MM.

Dasar pikir pelaksanaan kegiatan webinar melalui zoom yang digagas oleh Program studi Pendidikan Teologi Universitas Tribuana Kalabahi yaitu Manusia pada dasarnya adalah makhluk BerTuhan, oleh karenanya agama merupakan salah satu kebutuhan mendasar bagi manusia, yang secara spritual disadari bahwa manusia selalu mengharapkan kasih dan pertolongan Tuhan dalam kehidupannya. Di tengah pandemi global akibat penyebaran Covid-19, agama memainkanperanan yang signifikan baik sebagai kekuatan positif-konstruktif yang ikutmemitigasi wabahvirus. Sebagai kekuatan positif, agama dalam manifestasinya berupa otoritasagama, institusi agama, hingga tokoh agama berperan dalam melakukanpencegahan dengan berbagai cara, mulai dari sosialisasi, edukasi, hingga prevensi penyebaran wabah di tengah-tengah umat beragama. Para pemimpin agama berperan penting sebagai kekuatan konstruktif dengan mengeluarkan suara gembala untuk mengganti ibadah ritual agama secara daring maupun dari rumah masing-masing bahkan membuat panduan ibadah di tengah pandemic covid 19 demimemperkecil risiko penularan wabah.

Dalam konteks upaya pencegahan pandemic covid-19, tidak dapat dipungkiri bahwa virus mematikan ini juga menyerang manusia secara psikologis, sehingga jemaat secara institusi maupun indifidu melakukan segala sesuatu yang dapat menenangkan jiwanya diantara nya melalui ritual-ritual ibadah. Beberapa minggu terakhir jemaat dikejutkan dengan sebuah postingan video yang memuat ritual ibadah perayaan rabu abu yang diselenggarakan oleh salah satu gereja dibawah naungan sinode GMIT. Video tersebut kemudian memuculkan pro dan kontra terhadap ritual ibadah perayaanrabu abu. Mencermatiperbedaanpemahamanritual ibadah rabu abu di kalangan jemaat, maka yang diperlukan bukan sekedar mengkritik, tetapi yang dibutuhkan adalah sebuah pemecahan solusi yang mencerahkan jemaat terhadap ritual-ritual ibadah yang dilakukan dalam kalangan GMIT.

Berangkat dari sedikit uraian pemikiran tersebut, Program Studi Pendidikan Teologi Universitas Tribuana Kalabahi, marasa terpanggil untuk memfasilitasi orang-orang yang berkompoten untuk memberikan pencerahan kepada jemaat melalui seminar dengan Tema “Konvergensi Tradisi Agama Dan Covid-19 ”. Kata “konvergensi” berasal dari kata “converge” yang berarti bertemu, berkumpul atau berjumpa. Selanjutnya kata ini menjadi “convergence” yang berarti tindakan bertemu, bersatu di satu tempat, pemusatan pandangan mata ke suatu tempat yang amat dekat (Echols, 1994:145), atau menuju ke suatu titik pertemuan atau memusat (Depdikbud, 1995:249). Dengan demikian yang dimaksud pendekatan konvergensi tradisi agama adalah upaya untuk memahami agama dengan melihat intisari persamaan atau titik temu dari masing-masing alirankepercayaan untuk dapat diintegrasikan.

Dalam hal pendekatan konvergensi ini, Wilfred Contwell Smith sebagai tokoh pendekatan ini menghendaki agar penganut agama-agama dapat menyatu, bukan hanya dalam dunia praktis tetapi juga dalam pandangan teologis. Sehubungan dengan hal tersebut, Rabu Abu merupakan suatu ritual ibadah yang memiliki makna perobatan. Ritual ini pertama kali dilaksanakan oleh gereja katolik roma, namun christian today mencatat bahwa gereja metodis, episkopal, presbiterian, lutheran dan denominasi protestan lainnya juga mempraktikkan ritual ibadah dimaksud. Dalam konteks GMIT, ritual ibadah seperti rabu abu dan kamis putih tidak diatur sama sekali dalam peraturan-peraturan sinodal, akan tetapi dalam pelaksanaan konvergensi atau penggabungan tradisi agama terjadi dalam kehidupan warga GMIT baik secara individu maupun bergereja. Untuk itu, Program Studi Pendidikan Teologi mencoba membedah Konvergensi Tradisi Agama dari perspektif teologis maupun konstitusi, Dogmatika dan Biblika sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab warga GMIT dalam menjaga dan mempraktikkan tradisi gereja sebagai warisan kaum beriman.

perlu diketahui bahwa kegiatan yang dilangsungkan ini bertujuan agar

  1. Mengenali fenomena konvergensi tradisi agama dalam kehidupan agama kristen.
  2. Mengetahui faktor-faktor penyebab konvergensi tradisi agama.
  3. Meningkatkan pemahaman anggota jemaat GMIT akan bahaya atau dampak konvergensi agama.
  4. Menelisik kemungkinan antara hubungan covid 19 dan perilaku warga gereja termasuk konvergensi agama,
  5. Meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab warga GMIT dalam menjaga dan mempraktikkan tradisi gereja sebagai warisan kaum beriman.

Kegiatan dilakukan melalui Aplikasi Zoom tertanggal 12 maret 2021 Pukul 10.00 hingga selesai.

kegiatan yang menghadirkan 3 orang nara sumber antara lain yakni

Pdt. Dr Mery Kolimon

:

Pandangan GMIT Terhadap Konvergensi Tradisi Agama Baik dari Sisi Teologis Maupun Konstitusi Gereja.

Pdt.Dr. Ira. D. Mangililo

:

Tinjauan Dogmatika Kristen Terhadap Konvergensi Tradisi Agama

Pdt. Delila Tanaem.,M.Th

:

Tinjauan Biblis Terhadap Konvergensi Tradisi Agama

Dalam pemaparan materi, Nara sumber Pdt.Dr.Mery Kolimon berhalangan/sibuk sehingga tidak dapat menyampaikan materi pada kegiatan tersebut. 

Dalam pembahasan tersebut ada beberapa poin yang disampaikan terkait tema webinar antara lain   dari Pdt.Dr Ira Mangililo berpendapat bahwa 
• Praktek konvergensi agama sebenarnya sudah lama dilakukan
• Diskusi ini memberi ruang bagi kita untuk melihat bahwa kita perlu secara kelembagaan/sinodal untuk duduk secara bersama untuk membahas hal ini sehingga ada keputusan2 gereja dalam lingkup sinodal terkait pelaksanaan ritual-ritual dalam gereja kita
• Tradisi itu harus memiliki makna teologis sehingga dalam pelaksanaanya tidak kehilangan makna.


sementara Pdt. Delila Tanaem.,M.Th juga berpendapat bahwa 
• Jika kita mau menerapkan sesuatu yang selama ini bukan bagian dari tradisi GMIT, perlu diketahui latar belakang historis teologisnya, agar tidak terkesan mengadopsi tradisi dan terjadi konvergensi dalam liturgi tanpa memiliki landasan teologis.
• Pelaksanaan rabu abu bukan monopoli gereja katolik, melainkan rabu abu sebagai titik temu dari gereja yang Am. Tradisi bersama tersebut justru membangun jembatan antar jemaat yang berbeda-beda menjadi satu tubuh, yaitu Tubuh Kristus Yang Esa.
• Kita belajar dari sejarah pendidir gereja, jika ada perbedaan-perbedaan ajaran, pemahaman bahkan jika ada perselisihan, gereja menyelesaikan dengan duduk bersama dalam sidang-sidang untuk menemukan kehendak Alllah.

kegiatan yang dimotori oleh ketua Alboin Selly.S.Pd.M.Pd dan Sekretaris Eunike Molebila.,M.Th tersebut berjalan dengan baik hingga selesai.

Versi cetak

Related Keywords

konvergensi tradisi agama dan covid 19

Artikel Terkait